‘BBM Pertalite Saatnya Dilarang di DKI Jakarta’

Jakarta

BBM RON 90 dinilai sudah tidak cocok untuk mesin Euro4 di mana menjadi standar kendaraan bermotor di Indonesia saat ini. Penggunaan mesin dengan spesifikasi BBM yang lebih tinggi untuk mendukung emisi yang lebih ramah lingkungan.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) Ahmad Safrudin kondisi pencemaran udara di DKI Jakarta sudah memprihatinkan, melebihi ambang mutu dari yang ditetapkan pemerintah.

KPBB menjelaskan pada periode 2011-2020, kualitas udara Jakarta tidak sehat. Pada 2020 konsentrasi rata-rata tahunan PM 2,5 (46,1 g/m3), PM10 (59,03 g/m3), Ozone (83,3 g/m3), dan sulfur dioksida (42,76 g/m3). Sementara nitrogen dioksida 14,92 g/m3 dan karbon monoksida 3.610 g/m3.

“Kondisi seperti ini menempatkan Jakarta tidak sehat,” jelas dia.

Dia memaparkan konsentrasi pencemaran PM10 totalnya cukup besar sekitar 39 ribu ton (per hari) polutan dimuntahkan di DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebanyak 19 ribu di antaranya berasal dari kendaraan bermotor atau sekitar 47 persen, 20 persen industri, 11 persen dari debu jalanan, pembakaran sampah 5 persen, konstruksi sekitar 11 persen, dan power plant 4 persen,

Sedangkan konsentrasi PM 2,5 atau partikel debu 2,5 milimicron. Totalnya itu 29 ribu ton per hari, hampir 17 ribu ton berasal dari transportasi.

“Beban emisi -polutan udara, di Jabodetabek diperkirakan 19.165 ton per hari, yang bersumber dari sepeda motor 45 persen, truk 20 persen, bus 13 persen, mobil diesel 6 persen, mobil bensin 16 persen, dan kendaraan roda tiga sekitar 0,01 persen,” ujar pria yang disapa puput ini.

Puput merekomendasikan beberapa hal untuk mengatasi pencemaran udara, salah satunya mengusulkan untuk menghapus BBM kotor yang dijual saat ini, yakni Pertalite 90, Solar 48, dan Dexlite 51. Adapun BBM bersih misalnya kadar RON 91 dengan kandungan maksimal 50 ppm, olefin maksimal 20 ppm, dan benzen maksimal 2,5 persen. Sedangkan solar CN minimal 51 atau 53 maksimal 300 ppm, dan CN 53 dengan maksimal 550 ppm.

“BBM kotor Pertalite 90, Solar 48, Dexlite 51 saatnya dilarang di DKI Jakarta dan sekitarnya,” ujar Puput.

Puput menambahkan saatnya mengkonversi kendaraan bermotor yang lebih rendah emisi, syukur-syukur bisa beralih ke kendaraan lisrik.

“Elektrifikasi sepeda motor di Jakarta adalah keharusan, karena sepeda motor adalah polusi terbesar di antara moda transportasi yang lain, nomor dua truk, ketiga mobil bensin,”

“Truk dan bus yang beroperasi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya itu juga harus mematuhi pemerintah pusat serendah-rendahnya berstandar euro4 dan diisi bbm juga standar euro4. Apalagi bus-bus kota tak hanya cukup Euro4, tapi dikonversi ke bus listrik.”

“Secara teknis, kendaraan penumpang harus dikonversi berstandar Euro4, sebagaimana halnya truk dengan BBM yang sesuai dengan standar teknologinya, dengan preferensi kuat untuk dikonversi ke kendaraan listrik,” sambungnya.

Terakhir dia mendorong agar pemerintah menggunakan energi terbarukan sebagai sumber listrik. Alih-alih menghapus emisi, hanya memindahkan polutan secara lokal.

“Secara teknis, kendaraan penumpang harus dikonversi berstandar Euro4, sebagaimana halnya truk dengan BBM yang sesuai dengan standar teknologinya, dengan preferensi kuat untuk dikonversi ke kendaraan listrik,” ungkap dia.

Simak Video “Naik-Turun Harga Pertalite: Dulu Sempat Rp 6 Ribuan, Kini Rp 10 Ribu
[Gambas:Video 20detik]
(riar/lth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.