Harga Pertalite-Pertamax Naik, Penjualan Motor ‘Pede’ Tetap Bakal Laris

Jakarta

Harga kenaikan bahan bakar minyak non subsidi Pertalite dan Pertamax dirasa tidak akan berdampak langsung dengan penjualan sepeda motor. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) masih optimistis target 5,4 juta akan tercapai di tahun 2022.

“Pertanyaannya sampai akhir tahun berapa ya? Secara kumulatif sudah di angka kurang lebih 3,1 juta. Kalau 4 bulan tersisa bisa 500 ribu, bisa. Karena melihat permintaan yang ada. Jadi proyeksi penjualan kita masih di angka yang sama akan ditutup di range 5,1 sampai 5,4 jadi kita tidak ada koreksi,” ujar Sekretaris Umum AISI, Hari Budianto, Kamis (15/9/2022).

Dia mengatakan apalagi pemerintah juga optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai di atas 5 persen. “Kalau GDP 5 persen jualan pasti tumbuh,” tambah dia.

Hari menambahkan kenaikan BBM diprediksi bakal banyak orang beralih ke kendaraan yang lebih irit BBM. Sepeda motor dijadikan opsi karena fleksibel serta konsumsi BBM-nya yang murah ketimbang roda empat.

“Adanya kenaikan harga BBM diperkirakan konsumen akan beralih ke alat transpotasi yang lebih hemat energi salah satunya adalah penggunaan sepeda motor,” kata Hari.

Apalagi lanjut dia, salah satu pabrikan besar yang menjadi anggotanya sudah mulai pulih dari krisis chip semikonduktor. Seperti diketahui AISI saat ini dihuni lima anggota pabrikan besar; Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki, dan TVS. Penjualan pada Agustus 2022 juga menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir, tembus 524.821 unit.

“Agustus ini lonjakan luar biasa karena salah satu produsen terbesar solve semikonduktor,” kata Hari.

Soal kenaikan harga sepeda motor menyusul naiknya BBM dipastikan akan memengaruhi ongkos produksi. Namun lanjut dia, setiap pabrikan punya strategi masing-masing untuk menaikkan harga atau tidak ke konsumen.

“Kenaikan harga itu akan punya elastisitas. Di sepeda motor saya pernah hitung-hitung, kira-kira Elastisitasnya itu tiga-empat kali, setiap kenaikan 1 persen dari harga motor, atau sebaliknya penurunan daya beli masyarakat turun 1 persen. Itu berimbas terhadap demand empat kalinya, artinya empat persen akan terdampak. Ini masalah hitungan bisa beda-beda, Regresi perusahaan bisa beda-beda. Yang jualannya 4 juta setahun, sama 50 ribu setahun berbeda,” ungkap dia.

Tingkat elastisitas dimengerti oleh masing-masing. Tidak akan serta merta setiap ada apa-apa langsung naikin harga segala macam. Karena raja itu adalah volume. Semakin besar volume kita bisa mereduce cost karena ada skill of production karena di sini mesti hati-hati. Strategi ini nggak bisa sama rata, sama rasa. Semuanya pasti punya, sehingga tanda petik jawabannya pasti ada, masing-masing bisa mengendalikan tingkat risikonya, seperti sudah dihitung masing-masing perusahaan,” jelasnya.

Program Director Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti, kenaikan BBM sudah terjadi beberapa kali di era Presiden Jokowi, tetapi imbasnya terhadap industri otomotif tidak signifikan. Termasuk untuk dampak penjualan sepeda motor.

“Satu-satunya yang menjadi penurunan penjualan motor hanya pada saat krisis, pandemi pada tahun 2020, atau ada kebijakan Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit, ini yang menurut saya sangat berpengaruh. Kenaikan harga BBM ada, orang mungkin lebih akan shifting dari mobil ke motor.” kata Esther dalam kesempatan yang sama.

Simak Video “Penjualan Motor Mei 2022 Anjlok 43%, Apa Sebabnya?
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.