Intip Garasi Ketua Banggar Said Abdullah yang Disorot Naik Jet Pribadi Sambil Merokok

Jakarta

Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat, Said Abdullah jadi perbincangan netizen atas viralnya video naik jet pribadi sambil merokok. Menilik sisi lain dari politikus ini, ada apa saja isi garasinya?

Dicukil dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Said Abdullah tercatat memiliki total kekayaan sebesar Rp 84.589.901.803 atau sekitar Rp 84 miliaran. Harta itu dilaporkan pada 11 Maret 2022, periodik 2021.

Sebagian besar hartanya merupakan aset tanah senilai Rp 61.986.351.691 (Rp 61,9 miliaran), harta bergerak lainnya Rp 2.585.000.000, surat berharga Rp 566.805.140, dan kas setara kas Rp 17.761.744.972.

Soal isi garasinya, Said Abdullah tercatat hanya memiliki dua unit mobil yang totalnya mencapai Rp 1.690.000. Kedua mobilnya terdiri atas MPV dan SUV ladder frame.

Mobil pertamanya, Toyota Fortuner keluaran tahun 2016. Mobil tersebut ditaksir harganya mencapai Rp 490 juta.

Sedangkan mobil kedua Said Abdullah ialah MPV premium langganan masyarakat menengah ke atas, yakni Toyota Alphard tahun 2016. MPV dengan pintu geser miliknya itu ditaksir harganya Rp 1,2 miliar.

Diberitakan detikcom sebelumnya, beredar di media sosial video ketua Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Said Abdullah naik pesawat jet pribadi, sambil merokok.

Video beredar di TikTok sampai Instagram. Di video itu terlihat Said Abdullah mengenakan jas berwarna abu-abu dan kacamata di kepala.

“Yang penting di pesawat bisa ngerokok nomor 1,” ujar Said, dilihat detikcom, Sabtu (17/9/2022).

Di sisi lain, Said Abdullah juga menjadi sorotan usai pernyataannya yang bikin ramai terkait usulan penghapusan daya listrik 450 VA. Dia meluruskan saat rapat antara Badan Anggaran DPR RI dengan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan sesungguhnya membicarakan agenda besar peralihan energi untuk menyehatkan APBN.

Sebanyak 9,55 juta Rumah Tangga (RT) berdaya listrik 450 VA masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Kelompok rumah tangga ini masuk kategori kemiskinan parah yang menurut BPS masuk keluarga berpenghasilan kurang dari US$ 1,9 per hari dengan kurs Purchasing Power Parity (PPP).

“Terhadap kelompok rumah tangga seperti ini tentu saja tidak mungkin kebutuhan listriknya kita naikkan dayanya ke 900 VA. Untuk makan saja susah dan kebutuhan listriknya rata-rata hanya untuk penerangan dengan voltase rendah,” tegas Said.

Simak Video “Kondisi Terkini Wakil Ketua Banggar DPR yang Ambruk saat Rapat Paripurna
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.