Jakarta

Formula E tengah jadi perbincangan hangat di Indonesia seiring rencana Provinsi DKI Jakarta menggelar balap mobil ramah lingkungan ini. Balap Formula E memang belum sepopuler balap Formula 1. Tapi Formula E juga tidak bisa diremehkan karena merupakan puncak teknologi kendaraan listrik saat ini.

Hal itu dikatakan oleh praktisi pembuat kendaraan listrik, Ricky Elson. Ricky yang diketahui pernah mengembangkan mobil listrik bersama mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengatakan bahwa kendaraan listrik saat ini bisa bersaing dengan kendaraan konvensional di cabang olahraga otomotif.

“Sekarang puncak teknologi kendaraan listrik ada di sini, di Formula E, yang menjadi polemik di Indonesia saat ini, apakah akan diadakan atau tidak,” kata terang Ricky, dalam webinar yang digelar Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Rabu (14/10).

Menurut Ricky, mesin listrik Formula E memiliki berat sekitar 26 kg dan bisa menghasilkan tenaga mencapai 250 tenaga kuda pada 18.000 rpm. Kata Ricky menambahkan, ketertarikan dalam mempelajari teknologi kendaraan listrik ini perlu dipupuk agar bangsa Indonesia tidak ketinggalan.

“Kita harus ikut dalam peradaban ini. Kalau nggak, nanti kita hanya akan melahirkan generasi unboxing dan generasi reviewer saja,” ujar ilmuwan lulusan Universitas Andalas Padang dan Universitas Politeknik Jepang itu.

Dijelaskan Ricky, saat ini teknologi kendaraan listrik sudah bisa mengalahkan teknologi kendaraan konvensional dalam hal performa. Misalnya mobil listrik, saat ini sudah memiliki output tenaga yang besarnya melampaui output tenaga mesin mobil konvensional di kelas yang sama.

“Kendaraan listrik saat ini sudah mampu mengalahkan kendaraan internal combustion engine. Bayangkan sebuah start-up di Kroasia, Rimac, itu prototipe kedua mereka sekarang lagi diproduksi massal, itu memiliki kekuatan sebesar hampir 2.000 tenaga kuda. Atau jika di rumah di Indonesia itu 900 VA, ketika mobil ini mengeluarkan tenaga terbesarnya itu setara 1.500 VA. Lalu sekali mengisi baterainya 125 kWh ini setara dengan token listrik 1 bulan atau 200 ribu rupiah,” jelas Ricky.

(lua/lth)