Mobil Jenis SUV dan LMPV Masih Jadi Primadona di Indonesia

Suara.com – Mobil-mobil model SUV dan LMPV yang digemari keluarga masih menjadi pilihan pasar otomotif Indonesia di delapan bulan pertama 2022, demikian menurut data penjualan mobil secara wholesales yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor atau Gaikindo pekan ini.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menjelaskan tren tersebut paling banyak dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang rata-rata berada di kendaraan dengan harga di bawah Rp 300 juta.

“Selama ini, daya beli masyarakat kita adanya di kendaraan bermotor dengan harga Rp 300 juta ke bawah, dan juga mobil-mobil yang 5 pintu dan 7 seater (juga digemari). Jadi, para produsen memasarkan mobil-mobil tersebut,” kata Jongkie, Jumat (16/9/2022).

Di tipe 4×2, mobil-mobil seperti Daihatsu All New Xenia, All New Terios, hingga Honda BRV Prestige menjadi beberapa kendaraan yang memiliki penjualan kumulatif cukup tinggi, di kisaran angka 6.800 hingga 8.001 unit terjual.

Baca Juga:
Penjualan Kendaraan Elektrifikasi di Indonesia Meningkat Signifikan

Selain itu, beberapa varian yang lebih tinggi, di antaranya seperti All New Toyota Avanza juga mencatatkan angka penjualan cukup tinggi yaitu 10.832 unit untuk varian 1.3 E 2021 dan 14.615 untuk varian 1.5 G 2021. Ada pula Mitsubishi Xpander Ultimate (4×2) CVT yang terjual secara kumulatif sebanyak 14.613 unit.

Untuk mesin dengan CC lebih tinggi, di antaranya Mitsubishi Pajero Sport 2.4 L DAKAR (4×2) BAT meraih angka penjualan yang cukup tinggi yakni 11.549. Ada juga mobil Toyota lainnya yaitu All New Kijang Innova Venturer A/T 2020 terjual sebanyak 6.114 unit.

Lebih lanjut, tipe mobil 4×2 untuk semua varian CC jika ditotal secara kumulatif dari awal tahun hingga Agustus 2022 adalah 374.544 unit telah terjual. Sementara di tipe 4×4 adalah 4.919 unit, disusul dengan tipe sedan yang mencapai angka penjualan total 4.774 unit, dan kendaraan tipe bus sebanyak 1.474 unit terjual secara kumulatif.

Yang menarik, dari semua segmen kendaraan ini, penjualan mobil hingga Agustus cenderung stabil. Namun, terdapat penurunan signifikan di bulan Mei. Misalnya saja untuk segmen pasar 4×2 yang stabil di angka 40.000an dari bulan ke bulan, turun di angka 25.000an pada bulan Mei.

Menurut akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Pasaribu, hal tersebut dipengaruhi oleh libur Lebaran hingga sekitar dua minggu pada awal Mei 2022 membuat jumlah hari kerja yang lebih sedikit. Dampaknya, produksi kendaraan juga turun akibat libur panjang.

Baca Juga:
Gaikindo: Kenaikan Harga BBM Berdampak Terhadap Penjualan Mobil di Bawah Rp 300 Juta

“Hal lainnya, orang cenderung melakukan transaksi pembelian pada hari kerja. Lebaran pertama yang lebih bebas dari PPKM pascapandemi COVID-19 baru terjadi tahun 2022 ini, sehingga orang lebih berfokus kepada upaya untuk mudik setelah 2 tahun berpuasa mudik,” ujar Yannes.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.