Peneliti dari MIT temukan solusi baterai EV yang murah

Jakarta (ANTARA) – Massachusetts Institute of Technology (MIT) bersama dengan 15 penulis lain dari Universitas Peking, Universitas Yunnan, Universitas Teknologi Wuhan, Universitas Louisville, Universitas Waterloo, dan Laboratorium Nasional Argonne mengklaim telah menemukan solusi murah untuk baterai lithium-ion yang mahal.

Baca juga: Toyota Motor akan investasi 5,3 miliar dolar untuk pasok baterai EV

“Saya ingin menciptakan sesuatu yang lebih baik, jauh lebih baik, daripada baterai lithium-ion untuk penyimpanan stasioner skala kecil, dan akhirnya untuk (penggunaan) otomotif,” kata peneliti dari MIT Sadoway, seperti dilaporkan RideApart, Rabu (14/9).

Dalam penemuannya, Sadoway tidak lagi menggunakan lithium, dia beralih ke logam kedua yang paling banyak tersedia secara komersial dan paling melimpah di Bumi, yakni aluminium.

Dia juga menggunakan material non-logam termurah yang tersedia seperti belerang, sebagai elektroda baterai lainnya. Untuk menyampaikan ion di antara dua titik, Sadoway mengadopsi elektrolit garam cair.

Baca juga: Produksi baterai dalam negeri akan turunkan harga mobil listrik?

Sementara komposisi baterai memprioritaskan efisiensi biaya dan sumber daya yang mudah diperoleh, Sadoway juga menyebutkan beberapa keuntungan tambahan lainnya.

“Bahan-bahannya murah, dan barangnya aman—tidak bisa gosong,” kata Sadoway.

Kendati demikian, baterai aluminium-sulfur sangat berpengaruh pada panas. Studi menunjukkan bahwa unit benar-benar mengisi daya 25 kali lebih cepat pada 110 derajat Celcius (230 derajat Fahrenheit) dibandingkan dengan 25 C (77 F).

Terlebih lagi, baterai menghasilkan panas selama periode pengisian dan pemakaian. Ini memungkinkannya untuk mempertahankan suhu operasi yang optimal sambil menjaga larutan garam dari pembekuan.

Baca juga: Baterai Wuling Air EV telah lewati 16 uji ketahanan

Elektrolit garam cair juga melarutkan dendrit logam akumulatif, yang dapat menjangkau kedua elektroda dari waktu ke waktu. Baterai yang murah dan stabil ini mungkin tidak akan langsung bisa dipakai dalam waktu dekat, tetapi Sadoway yakin penemuan ini diharapkan dapat membantu mempercepat waktu pengisian daya dalam waktu dekat.

Dipasang di stasiun pengisian daya, sistem baterai dapat menyimpan daya sebelum melepaskannya dengan cepat ke pelanggan, sehingga meminimalkan waktu tunggu. Dalam hal ini, Sadoway sudah melisensikan paten sistem ke perusahaan yang baru didirikannya, Avanti.

“Urutan bisnis pertama bagi perusahaan adalah menunjukkan bahwa ia bekerja dalam skala besar,” kata Sadoway.

Jika tes tersebut terbukti menjanjikan, banyak yang berharap teknologi baru ini akan dapat mempercepat waktu pengisian daya dan adopsi sepeda motor listrik dalam waktu dekat.

Baca juga: Cara merawat agar baterai mobil listrik Hyundai IONIQ 5 tetap awet

Baca juga: Nio akan buat paket baterai yang dikembangkan sendiri pada 2024

Baca juga: Konsorsium LG akan produksi 3,5 juta unit baterai kendaraan listrik

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.