Pertalite Masuk Kategori BBM Kotor, Kenapa Masih Dijual di Indonesia?

Jakarta

Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) mendorong Pemerintah Indonesia tinggalkan jenis bahan bakar minyak kotor. Tiga BBM yang disebut kotor ialah Pertalite (RON 90), Solar 48, dan Dexlite 51.

“Di sini perlu segera menghapus tiga jenis BBM kotor yang masih tersisa. Konteks ini kalau memang pemerintah care ke persoalan sistem moneter di Indonesia, care upaya menjaga stabilitas ekonomi, kemudian juga konteks mengadopsi bahan bakar bersih demi terciptanya lingkungan hidup yang bersih dengan kualitas yang lebih baik maka segera menghapus tiga bahan bakar kotor tadi,” ujar Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin saat diskusi virtual beberapa waktu yang lalu.

Saat ini Indonesia lewat perusahaan minyak negara Pertamina masih menjual BBM RON 90 (Pertalite), RON 92 (Pertamax), RON 95 (Pertamax Turbo), dan RON 98 (Pertamax Racing), CN 51 (Dexlite). dan CN 53 (Pertamina Dex), Adapun SPBU swasta lain serupa misalnya Shell Super (RON 92), V-Power (RON 95), V-Power Diesel (CN 51), dan V-Power Nitro+ (RON 98).

Di wilayah ASEAN lain, Singapura misalnya, hanya menjual 2 jenis BBM yakni RON 92 dan 98. Begitu juga di Malaysia, minimal yang dijual yaitu BBM RON 95 dan BBM RON 97. Kemudian di Thailand (BBM RON 91 & BBM RON 95), Filipina (BBM RON 91, BBM RON 95, BBM RON 97, dan BBM RON 100), Vietnam (BBM RON 92 dan BBM RON 95).

Pria yang disapa Putut ini mempertanyakan kenapa Indonesia masih jual BBM dengan RON rendah padahal sudah mengadopsi Euro4. Dalam paparannya sejak menerapkan Euro2 tak perlu lagi menggunakan BBM kotor seperti Premium, Pertalite, Solar dan Dexlite.

“Sayangnya bbm yang lebih ramah lingkungan ini kalah dalam konteks willingness dari pemerintah maupun politisi Indonesia, sehingga yang berkibar kategori bbm kotor,” kata Puput.

“Kenapa masih dapat backup politik yang kuat? karena ini masih menjadi salah satu sumber, semacam tempat yang bisa memberikan semacam kompensasi, pundi-pundi, dalam konteks kepentingan politik, kampanye,” sambung dia.

Puput melanjutkan, pemerintah didorong untuk mengedepankan BBM bersih sebab bensin dengan RON rendah ini menimbulkan polusi yang tinggi, dan disebut tidak ramah lingkungan. Adapun BBM bersih misalnya kadar RON 91 dengan kandungan maksimal 50 ppm, olefin maksimal 20 ppm, dan benzen maksimal 2,5 persen. Sedangkan solar CN minimal 51 atau 53 maksimal 300 ppm, dan CN 53 dengan maksimal 550 ppm.

“Eropa selain mengekspor bbm kotor ke Asia Tenggara juga ke Afrika Barat. Di Asia Tenggara ini diakumulasi di bursa minyak di Singapura,” kata Puput.

“Kira-kira kurang lebih satu-satunya yang masih membuka pasar BBM kotor adalah Indonesia. Bayangkan Vietnam sudah menutup pintu rapat-rapat untuk BBM kotor ini karena Vietnam, Malaysia, Thailand, China, dan India mereka concern terhadap pasar otomotif.”

“Bahan bakar bersih adalah persemaian bagus untuk industri otomotif kalau mau industri otomotif berkembang mengisi ruang di negaranya sendiri maupun untuk tujuan ekspor maka bahan bakar ini harus diugprade sedemikian rupa untuk memenuhi teknologi kendaraan di level tertentu,” ujar dia.

“Vietnam sudah memenuhi standar Euro5, Thailand dan Malaysia standar Euro4, Singapura sama dengan Vietnam standar Euro5, bahkan Singapura sudah mengadopsi Euro5 sejak 2014. Filipina sejak 2014 mengadopsi Euro4,” jelas Puput.

Simak Video “KPBB Sebut Butuh Tambah 8 Kilang Minyak untuk Lepas Impor BBM
[Gambas:Video 20detik]
(riar/riar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.