Produsen Mobil Listrik BYD Pilih Thailand Sebagai Basis Produksi di Asia Tenggara

Suara.com – Pembuat kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) asal China, BYD memilih Thailand sebagai lokasi pabrik. Bakal beroperasi mulai 2024, produksi diharapkan mencapai 150.000 unit mobil penumpang per tahun.

Melansir Nasdaq, BYD mengumumkan dalam pernyataan bersama pengembang industri Thailand WHA Group bahwa perjanjian pembelian telah ditandatangani untuk lahan seluas 237,22 hektar di provinsi timur Rayong.

Produsen EV terbesar di China itu bertujuan untuk menjual 10.000 unit kendaraan di Thailand dan mengekspor sisanya ke negara-negara kawasan Asia Tenggara dan Eropa.

Petugas berjalan di dekat Bus Listrik TransJakarta buatan BYD di Plaza Monas, Jakarta, Selasa (8/3/2022). [Antara/Aprillio Akbar]
Sebagai ilustrasi produk BYD. Tampak Petugas berjalan di dekat Bus Listrik TransJakarta buatan BYD di Plaza Monas, Jakarta, Selasa (8/3/2022). [Antara/Aprillio Akbar]

Pabrik BYD di Thailand ini akan menjadi yang terbaru di antara lebih dari 30 pabrik lain yang telah didirikan di Amerika Serikat, Brasil, dan India.

Baca Juga:
Sri Ratu Elizabeth II Mangkat, Ini Limousine yang Menjadi Kendaraan Resmi Kenegaraan

Sebagai catatan, pemerintah Thailand baru-baru ini menyetujui pemberian insentif untuk mendorong transisi menuju kendaraan listrik.

Negara yang kini menyebut nama ibu kotanya sebagai Krung Thep Maha Nakhon itu siap memberikan insentif berupa keringanan pajak kendaraan listrik.

Di antaranya pemerintah setempat akan mengurangi bea masuk tahun ini. Berikutnya 40 persen untuk kendaraan listrik yang diimpor utuh atau versi CBU (Completely Built-Up) dengan harga 2 juta baht.

Selain itu, seperti dikutip dari Nikkei Asia, mobil listrik yang harganya lebih tinggi berkisar antara 2 juta hingga 7 juta baht diberikan keringanan bea masuk sebesar 20 persen.

Baca Juga:
Sri Ratu Elizabeth II Mangkat, Mobil Favorit Beliau: Produk Britania Raya Jadi Prioritas

Keistimewaan lain, pajak cukai pada kendaraan listrik impor hanya akan dikenakan 2 persen dari normal 8 persen. Langkah pemberian insentif ini diharapkan mampu menambah 7.000 unit kendaraan listrik untuk tahun pertama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.