PT Aneka Tambang Bersiap Hasilkan Bahan Utama Baterai Kendaraan Listrik

Suara.com – PT Aneka Tambang (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) yang berada di bawah naungan Inalum atau MIND ID telah menandatangani framework agreement.

Dikutip dari kantor berita Antara, Nico Kanter, Direktur Utama PT Aneka Tambang (Antam) menyatakan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (12/9/2022).

Ia menyatakan bahwa pihaknya menjajaki kerja sama global dengan sejumlah perusahaan untuk membangun pabrik nikel kelas satu. Tujuannya menghasilkan bahan utama baterai kendaraan listrik.

Ilustrasi baterai motor listrik. [Kumpan Electric/Unsplash]
Ilustrasi baterai motor listrik. [Kumpan Electric/Unsplash]

Penandatanganan itu akan menjadi dasar kegiatan tidak hanya pembangunan smelter.

“Akan tetapi turunan katoda prekursor dan baterai sampai daur ulang baterai juga dibangun di Indonesia,” papar Nico Kanter.

Baca Juga:
Tractor Guard of Honour: Cara Petani Berikan Penghormatan Terakhir kepada Kereta Merta Ratu Elizabeth II

Dipaparkannya bahwa nikel memiliki dua jenis, yaitu nikel kelas satu yang dimanfaatkan untuk baterai kendaraan listrik. Lantas nikel kelas dua yang digunakan untuk produk stainless steel.

Pabrik-pabrik di Indonesia termasuk yang ada di Sulawesi Tenggara, selama ini hanya mengolah nikel kelas dua menjadi nickel pig iron atau feronikel kemudian diturunkan menjadi stainless steel.

Sementara itu, nikel kelas satu adalah nikel yang diproduksi menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) atau mixed sulphide precipitate (MSP) berupa bahan-bahan yang digunakan untuk menjadi prekursor atau katoda yang akhirnya menjadi baterai kendaraan listrik.

“Jadi (nikel) kelas satu ini memang belum ada pabriknya di Indonesia, tapi kami sudah menandatangani beberapa perjanjian kerja sama untuk bangun smelter prekursor dan juga baterai,” tandas Nico Kanter.

Baca Juga:
Pengujung 2022, VinFast Siap Serahkan 100 Unit Mobil Listrik Perdana kepada Konsumen Amerika Serikat

Pada Maret 2022, Antam bersama IBC telah menandatangani dua perjanjian awal dengan perusahaan Ningbo Contemporary Brunp Lygen (CBL) dari China. Serta LG Corporation dari Korea Selatan.

Kedua perusahaan asing ini adalah konsorsium yang mengikutsertakan ahli membangun pabrik, katoda, serta baterai kendaraan listrik.

Dalam konsorsium itu, posisi Antam berada di sektor hulu lantaran memiliki ekuitas terbesar dan sumber daya alam berupa nikel. Antam akan menandatangani kontrak usaha patungan atau joint venture agreement (JVA) dengan CBL.

“Kami sebagai pemilik resource tentunya memiliki ekuitas terbesar. Jadi, nanti di dalam JVA, kami memiliki 51 persen dan CBL ataupun LG akan memiliki 49 persen,” urai Nico Kanter.

Kemudian, setelah hulu akan masuk ke pembangunan smelter untuk menghasilkan produk turunan yang akan diolah menjadi katoda dan prekursor.

Di dalam kontrak usaha patungan smelter itu, komposisi kepemilikan Antam dan IBC hanya 40 persen dan sisanya 60 persen dimiliki oleh CBL maupun LG.

Presiden Joko Widodo berbincang tentang baterai mobil listrik [Instagram: @jokowi].
Presiden Joko Widodo berbincang tentang baterai mobil listrik [Instagram: @jokowi].

CBL membangun pabriknya di wilayah Halmahera Timur, Maluku Utara, begitu juga dengan LG hanya berbeda lokasi.

Pabrik turunan berikutnya dicanangkan di Batang, Jawa Tengah.

“Kami akan masuk ke dalam industri baterai kendaraan listrik, jadi tidak lagi hanya di stainless steel untuk turunan terakhirnya,” pungkas Nico Kanter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.