Sudah Ada Training Khusus, Kok Sopir Truk Masih Sering Ugal-ugalan?

Jakarta

Kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan angkutan barang seperti truk kerap terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Biasanya, penyebabnya ada dua, yakni rem blong dan sopir yang ugal-ugalan.

Kasus terbaru terjadi di Kranji, Bekasi, Jawa Barat. Kala itu, sopir truk yang mengaku hilang konsenstrasi mengakibatkan kendaraannya menabrak sejumlah warga dan anak sekolah di sekitar halte. Menurut keterangan polisi, truk tersebut sempat oleng ke kiri dan ke kanan.

Beberapa pekan sebelumnya, sopir yang ugal-ugalan juga memakan korban di daerah Bandar Lampung. Meski tak ada yang tewas, namun ada sekira sembilan orang yang mengalami luka-luka.

Lalu mengapa kecelakaan yang diakibatkan sopir truk ugal-ugalan masih sering terjadi di Indonesia? Bukankah mereka semestinya sudah mendapat pelatihan khusus sebelum mengemudi?

Pada dasarnya, pemerintah sudah mengeluarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 171 Tahun 2019 yang menegaskan seluruh sopir angkutan barang wajib memiliki standar kompetensi.

Sopir Mengantuk, Truk Terguling di Tol Jagorawi Arah Bogor (Istimewa)Ilustrasi kecelakaan truk (Istimewa) Foto: Sopir Mengantuk, Truk Terguling di Tol Jagorawi Arah Bogor (Istimewa)

Dalam aturan tersebut, tertulis bahwa pengemudi wajib berkompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 269 Tahun 2014.

Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana berpendapat, pelatihan atau sertifikasi untuk pengemudi truk merupakan suatu kewajiban. Hanya saja, di Indonesia, semuanya tidak dijalankan dengan benar dan sungguh-sungguh.

“Training khusus (sopir truk) yang ada saat ini diberikan hanya sebatas informasi saja, formalitas. Sehingga, pemahamannya kurang dan risiko kecelakaan jadi tinggi,” ujar Sony kepada detikOto, Senin 12 September 2022.

Menurut Sony, sebelum benar-benar direkrut dan dipekerjakan, sopir harus diseleksi secara ketat dan berlapis. Bukan hanya itu, dia juga harus mendapat pendidikan dari yang level dasar sampai ke mahir.

“Itu kenapa sudah harus dievaluasi, baik perekrutan dan pelatihan yang harusnya digelar beberapa bulan sekali. Itu harus direfresh sampai dengan tanda tangan perjanjian tanggung jawab kasus kecelakaan,” tegasnya.

Lebih jauh, Sony menambahkan, pemerintah melalui Kemenhub harusnya bisa lebih serius dalam membenahi sengkarut masalah tersebut.

“Ini PR besar yang segera harus dibenahi pemerintah, dalam hal ini Dephubdar. Mereka yang paling tahu penyelesaiannya atau kita hanya bicara mitigasi-mitigasi tapi cuma paper no action saja,” kata Sony.

Simak Video “Penampakan Truk Bermuatan Ayam Tabrak Bus Primajasa di Tol Japek
[Gambas:Video 20detik]
(lth/din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.