Supaya Mobil Listrik Lebih Murah dari Mobil Bensin, RI Perlu Belajar dari China

Jakarta

Indonesia sedang gencar-gencarnya mendorong penggunaan mobil listrik battery electric vehicles (BEV). Tapi di sisi lain Industri Kecil Menengah (IKM) juga perlu menyiapkan diri dalam menyambut era elektrifikasi.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia Taufik Bawazier mengatakan mobil internal combustion engine (ICE) masih menyumbang perekonomian nasional.

“Di Indonesia, ICE itu 99 persen mendorong ekonomi nasional, jadi kontribusi sektor ekonomi di Indonesia itu masih ICE, oleh karena itu pemerintah akan mencoba transisi karena di dalamnya ada forward linkage dan backward linkage masuk di dalam IKM (Industri Kecil Menengah) yang menghasilkan spare part otomotif banyak IKM di situ, industri lain terkait luar biasa yang GDP 20 persen industri di sana, artinya memang otomotif merupakan sektor yang paling strategis,” ujar Taufik saat seminar di Periklindo Electric Show 2022, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (25/7/2022).

Dia melanjutkan mobil listrik di dunia populasinya berkembang lebih cepat. Terutama China yang bisa memiliki jumlah mobil listrik terbesar di dunia.

“Sekarang ini yang menjadi isu seperti yang sudah disampaikan pak Moeldoko tadi bagaimana ekonomi variable electric lebih murah dari gasoline,” ujar Taufik.

“Jadi tahun 2012 itu sekitar 120 ribu mobil listrik beredar di dunia. Kemudian tahun 2021 kemarin, itu beredar 6,6 juta mobil listrik di dunia, 3,3 jutanya ada di China, artinya 50 persen mobil listrik itu beredar di China,” jelas dia.

“Kenapa negara-negara tersebut berkembang lebih cepat?” tambah Taufik.

Salah satu faktornya ialah harga. Banderolan mobil listrik tentunya jadi pertimbangan dalam mempercepat akselerasi di Indonesia. Di negeri tirai bambu, pemerintah bahkan memberikan subsidi berupa potongan harga agar mobil listriknya setara dengan mobil ICE.

Pengembangan BEV membutuhkan tambahan insentif pajak agar harganya bisa lebih terjangkau. Saat ini Indonesia baru mendapatkan insentif pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 0% untuk BEV dan sudah mendapatkan insentif bea balik nama (BBN) 0% untuk DKI Jakarta, dengan tarif bea masuk (BM) impor 5%. Tapi itu dinilai tidak cukup menekan harga jual mobil listrik.

Adapun pengenaan pajak yang masih dikenakan misalnya tarif bea masuk, serta pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh) 0%.

Indonesia saat ini juga mendorong agar pabrikan otomotif untuk mendirikan pabrik mobil listrik di Tanah Air. Total kandungan dalam negeri (TKDN) juga didorong supaya pabrikan mendapatkan insentif lebih murah lagi. Tak hanya itu, pemerintah juga sudah mengundang investor untuk mengolah baterai di dalam negeri, sebagai komponen utama dari mobil listrik.

“Ekosistemnya sebagian besar kalau bisa sudah ada di Indonesia. Ini pertama menghemat cost supply chain. Transisi ICE ke hybrid ada cost 20 persen. Dari ICE ke Electric Baterai 60 persen cost. Ini yang menjadi diskursus,” jelas Taufik.

“Gap yang ada China saya lihat antara ICE dengan BEV sekarang hanya 10 persen, di negara lain masih 50 persen, ini harus dipelajari juga, variable-nya apa, faktornya apa,” kata Taufik.

Simak Video “Segini Biaya dan Cara Ngecas Mobil Listrik di SPBU Pertamina
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.